![]() |
| sumber : http://www.tosupedia.com/2015/09/mengenal-suku-dayak-hindu-budha-bumi-segandu-indramayu.html |
Sejarah Suku Dayak Hindu Buddha Bumi Segandu Indramayu
Menurut Panglima Perang Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu
Indramayu,Tarxim Bin kalsim, bahwa Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu
Indramayu ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Suku Dayak yang ada di
Kalimantan.
“Hindu di sini bukan agama, karena kami hanya memiliki
keyakinan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak dibungkus dengan baju
yang namannya Agama,” jelas Tarxim Bin Kalsim.
Menurut Tarxim, Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu
Indramayu sendiri memiliki arti, Suku yang berarti Kaki, Dayak yang
berarti Ramai, Hindu yang berarti di dalam rahim atau kandungan, Bumi
yang berarti wujud, Segandu yang berarti seluruh badan, Indramayu
berarti inti yang paling dalam Darma terhadap orang tua dan Ayu yang
berarti wanita.
“Bila diartikan secara menyeluruh Suku Dayak Hindu-Budha
Bumi Segandu Indramayu, kaki melangkah berdasarkan kepercayaan yang
sudah dibawa sejak dalam kandungan untuk berbakti kepada alam, orang tua
dan wanita,” paparnya.
Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu memiliki
pengikut cukup banyak dan terbagi atas tiga kelompok. Kelompok pertama, dikenal
dengan nama Dayak alami, yaitu anggota Suku Dayak tanpa menggunakan baju dan
hanya menggunakan celana pendek sebanyak 100 orang. Dan dalam kehidupan
sehari-hari, selain menggunakan pernak-pernik suku mereka, seperti gelang
tangan, kalung,ikat celana dari ayaman bambu, di leher mereka lambang Pancasila
selalu dikenakan.
“Selain melambangkan negara, Pancasila juga melambangkan
persatuan kita semua. Meskipun kita berbeda-beda, namun kita dipersatukan
dengan lambang Pancasila. Dan ini wajib kita kenakan,” terang Tarxim.
Kelompok kedua, biasa dikenal dengan nama Dayak Preman.
Untuk kelompok kedua ini yaitu komunitas suku Dayak yang menggunakan
pakaian lengkap dan berwarna-warni, jumlahnya cukup banyak, yaitu 7000
orang dan tersebar di seluruh daerah di Indonesia.
Sedangkan kelompok ketiga yaitu Dayak Ibu, hanya
beranggotakan perempuan, baik dewasa maupun anak-anak dan jumlahnya cukup
banyak hingga mencapai 10 ribu anggota.
Menurut Tarxim, awal berdiri Suku Dayak Hindu-Budha Bumi
Segandu Indramayu berawal dari perkumpulan perguruan pencak silat yang
didirikan kepala suku mereka, Eran Takmad Diningrat Gusti Alam. Keputusan untuk
meninggalkan hiruk-pikuk duniawi dan menyebarkan kebaikan dan kesabaran
diperoleh Eran setelah menjalani ritual topo bisu dan topo pepe yang hingga
kini menjadi ritual wajib yang harus dijalani anggota kelompok ini.
Awalnya, hanya sang istri dan anak Eran Takmad Diningrat
Gusti Alam yang menjadi pengikutnya. Namun, lambat laun ajaran yang mengadopsi
salah satu tokoh pewayangan Semar ini mampu menarik perhatian masyarakat luas.
“Sebenarnya kami tidak pernah memaksa keluarga kami untuk
menjadi masuk dalam kelompok kami. Mereka masuk karena mereka merasakan apa
yang kami ajarkan bukan kekerasan, melainkan kedamaian abadi,” terang Tarxim
yang mengaku dua putrinya ini menolak masuk mengikuti jejaknya.
Menurut Tarxim, untuk ritual topo bisu dan topo pepe yang
ritual awal biasa digelar pada minggu pertama bulan pertama atau setiap malam
Jumat kliwon,selama 4 bulan lima hari ini, hanya diikuti Dayak Alami yang
beranggotakan 100 orang.
“Kenapa dimulai setiap malam jumat kliwon, karena alam
menyampaikan pesannya setiap malam itu dan secara terus menerus hingga 4 bulan
5 hari. Intinya melatih kesabaran kita semua manusia,” ujarnya lagi.
Kehidupan Sosial Bermasyarakat
Mereka adalah sekumpulan orang yang memiliki ajaran dan gaya
hidup yang berbeda dengan suku di Indonesia pada umumnya. Bahkan tidak diatur
dalam kehidupan oleh pemerintah. Dayak Sugandu sendiri berarti mengayak
pribadi. Mereka tidak berhubungan dengan suku Dayak dari Kalimantan.
Ajaran dan suku ini sendiri mulai terbentuk pada tahun 1970.
Ta’mad, sang pendiri menemukan titik jenuh akan aturan pemerintah. Melihat
keadaan sekitar yang tidak berubah, Ta’mad mulai instropeksi diri dan menyadari
bahwa cara tersebut adalah paling baik bagi manusia.
Selain itu, filosofi kehidupan mereka adalah alam. Bagaimana
cara terbaik untuk mendekatkan diri dengan alam. Mereka percaya bahwa inti
ajaran dalam hidup adalah alam.
Maka, nilai-nilai alamiah harus dihargai dan dijunjung
tinggi. Seperti menghargai perempuan dan anak. Bahkan para kaum pria rela untuk
mencari nafkah sekaligus mengurusi pekerjaan rumah tangga seperti memasak.
Bagi mereka, kaum perempuan memiliki martabat tinggi karena
dari perempuanlah lahirlah individu-individu baru. Hal tersebut tidak bisa
dilakukan oleh pria siapapun dan dimanapun.
Begitu pun dengan anak yang lugu dan dianggap selalu benar.
Oleh karena itu, pria Suku Dayak Sugandu berpatokan untuk mengabdi kepada
perempuan terutama ibu, istri serta anak mereka.
Selain itu, semua aspek kehidupan mereka berdasarkan alam.
Seperti penggunaan warna hitam dan putih sebagai penanda adanya siang dan
malam. Mereka tidak menggunakan baju atasan terutama kaum pria. Mereka juga
tidak makan daging untuk menghormati sesama mahluk hidup yang bernyawa.
Mereka biasanya melakukan ritual rendeman atau biasa disebut
kumkum yang berfungsi untuk melatih kesabaran. Kumkum ini dilakukan selama 4
bulan dalam setahun. Prosesi Kumkum dimulai dengan melakukan kidung di malam
hari sekitar pukul 23.00 WIB. Usai kidung, mereka beranjak ke sungai kecil di
dekat perkampungan mereka. Kemudian merendamkan diri hingga esok pagi.
Mereka tetap dengan tidak menggunakan baju atasan. Selama 8
jam mereka harus menahan dingin dan juga gigitan ikan-ikan kecil yang usil di
dalam sungai kecil tersebut. Ya, memang sangat melatih kesabaran. Tidak semua
orang bisa melakukan dalam sekejap.
Butuh latihan perlahan-lahan untuk membiasakan diri dengan
suhu air dan udara malam. Usai berendam semalam, ritual belum berhenti sampai
di situ. Mereka melanjutkan dengan mepe alias berjemur.
Mereka berjemur hingga celana mereka kering. Memang fungsi
mepe untuk mengeringkan badan sekaligus mendekatkan diri dengan alam dan tanah.
Hasil dari ritual ini, mereka merasa menjadi orang yang baru.
Kemudian kembali mencari nafkah cukup selama 8 bulan untuk
hidup bersama anak dan istri. Kalau ada rezeki lebih, biasanya diberikan kepada
yang membutuhkan. 4 bulan sisanya digunakan untuk melakukan ritual.
Mereka adalah suku tanpa memiliki kartu identitas. Bukan
berarti mereka menentang negara Indonesia. Meskipun berbeda paham dan agama
mereka tetap bagian dari Indonesia.
Bagi mereka kartu idetitas hanyalah sebuah kartu yang
merepotkan. Identitas utama mereka adalah diri mereka yang kasat mata dan
dibawa kemanapun mereka pergi. Meski sempat mengalami kesulitan karena tidak
punya KTP saat berpergian ataupun mengurus surat-surat penting lain.
Kehidupan bermasyarakat mereka sangat baik. Terbukti, saat
saya berada di kampung mungil ini, tidak ada istilah berkerumun hanya karena
satu suku. Mereka membaur dan bekerja bersama saat di ladang. Membeli rokok di
warung yang sama dengan warga lain. Saling menegur satu sama lain.
berikut ebook : silahkan download cieeeee
ebook dayak bumi segandu
integrasi sosial suku dayak indramayu
ebook dayak segandhu
berikut ebook : silahkan download cieeeee
ebook dayak bumi segandu
integrasi sosial suku dayak indramayu
ebook dayak segandhu
sumber :







0 komentar:
Posting Komentar