![]() | |
| (sumber: https://dreamindonesia.me/tag/suku-dani/) |
1. Latar Belakang
Sejarah Suku Dani
![]() |
| (sumber: http://hoteltimikaindah.blogspot.co.id/2011_04_01_archive.html) |
Dani adalah satu
suku-bangsa, yang merupakan salah satu penduduk asal di wilayah pegunungan
tengah, Propinsi Irian Jaya.
Secara umum, latar
belakang sejarah orang Dani masih merupakan misteri. Para ahli berpendapat bahwa
orang Dani mulai menempati lembah Bali mini sekitar 24.000 tahun SM, dan mereka
mulai mengenal bercocok tanam dan bertenak kira-kira sejak 7.000 tahun SM.
Hasil penelitian arkeologi menemukan sisa-sisa pembakaran yang berasal dari
masa 10.000 tahun yang lalu.
Mitos orang Dani
sendiri mengungkapkan bahwa mereka berasal dari manusia pertama yang keluar
dari dalam lubang di dua kampong dekat sungai Balim. Manusia pertama itu
masing-masing seorang wanita dan seorang pria yang bernama bak. Manusia pertama
inilah yang membawa kebutuhan mereka, seperti petatas (ubi jalar), keladi,
tembakau, tebu, anjing, dan babi. Kemudian bak menjelajahi seluruh lembah
Balim. Menurut kepercayaan mereka sekarang Bak itu tinggal dilaut, sebagai
suatu pertanda mereka berasal dari daerah pesisir.
Mereka tidak menyebut
dirinya orang “Dani”, bahkan tidak senang menggunakan nama tersebut. Mereka
menyebut dirinya nit Balimege, artinnya “kami orang Balim”. Kata Dani
pertama-tama digunakan oleh Le Roux, pemimpin ekspedisi Belanda-Prancis tahun
1926, karena orang Moni menyebut “Ndani” terhadap tetangganya di lembah Bali
mini. Orang Dani itu sendiri baru ditemukan anggota ekspedisi itu tahun 1929
dan pada tahun 1939 pesawat terbang untuk pertama kalinya mendarat di sungai
Balim. Zending pertama di bawah pimpinan Nyron Bromley masuk tahun 1954, ia
melakukan penelitian mendalam tentang budaya orang Dani, yang kemudian mencapai
gelar Ph. D. dalam bidang Antropologi. Pemerintah Belanda baru membuka pos
pertama disana tahun 1959 sampai dengan kekuasaan politik beralih kepada
pemerintah Indonesia tahun 1963. Pembangunan yang berjalan selama masa
pemerintahan R.I. telah banyak menimbulkan perubahan pada budaya mereka.
![]() |
| (sumber : http://travel.detik.com/read/2012/12/08/131500/2104525/1025/5/perang-pecah-di-lembah-baliem) |
2. Sistem Kepercayaan
Suku Dani
Dalam kaitan dengan
sistem kepercayaan orang Dani sangat percaya kepada roh-roh (mogat) orang yang
telah meninggal. Roh itu berada di sekitar tempat kediaman keluarganya juga.
Seperti halnya manusia, roh itu dapat melihat, berbicara, berbuat baik, atau
jahat. Menolong atau menyebabkan kematian seseorang sakit atau kecelakaan, atau
ternak (babi) sakit, roh itu dapat diminta tolong untuk menyembuhkan melalui
suatu upacara. Dalam rangka upacara itu dipotong babi dan sebagian dari daging
itu diberikan untuk mogat.
Selain percaya pada
roh, mereka percaya juga kepada benda-benda seperti batu pipih (keneke). Batu
pipih ini diyakini sebagai pusat segala roh orang yang meninggal. Batu yang
ukurannya sekitar 10 x 40 cm bersama benda sacral lainnya, seperti kayu
pemukul, jala-jala gendongan, disimpan di dalam ruang khusus di dalam pilamo,
yang dikeluarkan setiap ada upacara khusus (ebe ako), atau pada pesta babi.
Upacara khusus tadi adalah upacara inisiasi, perkawinan, upacara untuk mencapai
kebahagiaan dan kesejahteraan hidup. Upacara yang diadakan sekali dalam 4-5
tahun itu ditandai dengan pemotongan ratusan ekor babi. Selain kepercayaan asli
itu banyak di antara mereka yang sudah menganut agama Katolik dan Protestan.
Kepercayan kepada roh
tadi rupanya terkait pula dengan bentuk rumah (honai) yang terurai di atas.
Rupanya honai yang tertutup, tanpa jendela, ventilasi, yang hanya dengan pintu
kecil dan rendah, adalah untuk menghindari masuknya roh jahat, yang bisa
membuat mereka sakit atau mati. Itulah sebabnya mereka tidak meudah diajak
berdiam didalam rumah “kotak” yang ada jendela atau ventilasi. Mereka
beranggapan atau yakin dari celah jendela atau ventilasi itu akan masuk roh
jahat tadi. Padahal dalam kenyataannya, dalam honai yang pengap tadilah, mereka
dihinggapi banyak macam penyakit, misalnya “infeksi saluran pernapasan atas”
yang paling banyak dialami oleh orang Dani di Kurulu. Namun tidak dianggap
sakit.
Selain kepercayaan asli
setempat mereka juga memluk agama Protestan dan Katolik. Memang tidak bisa
dipastikan berapa jumlah mereka yang memeluk agama tersebut, akan tetapi dari
328.131 jiwa jumlah penduduk kabupaten Jayawijaya tahun 1985, yang memeluk
agama Protestan : 199.000 jiwa, Katolik: 52.419 jiwa, dan Islam: 19.000 jiwa.
Tempat peribadatan yang tersedia adalah 426 gereja Protestan, 103 gereja Katolik,
dan 4 mesjid.
3. Perubahan
Setelah Irian Jaya
masuk ke dalam kekuasaan RI (1963) pembangunan masyarakat Dani khususnya mulai
dilaksanakan secara bertahap. Daerah sekitar pegunungan Jayawijaya berstatus
sebagai sebuah kabupaten dengan ibu kota Wamena. Tahun 1971 di Wamena dibuka
lapangan terbang, sehingga Jayapura-Wamena dapat dicapai dalam waktu setengah
jam. Kabupaten Jayawijaya umumnya kini memliki 57 lapangan terbang, terdiri
dari atas delapan milik pemerintah dan 49 milik swasta. Selanjutnya kawasan
lembah Bali mini mendapat penerangan listrik, kendaraan mobil mulai masuk. Pada
tahun 1980 masyarakat kota Wamena dapat menikmati siaran TV dan hubungan
telepon dengan Jakarta dan daerah lain. kini jalan raya yang menghubungkan Jayapura-Wamena
sepanjang 400km, sedang dikerjakan dan diperhitungkan selesai tahun 1994,
rupanya perkiraan rampungnya jalan ini tidak tepat. Prasarana dan sarana
transportasi ini akan menjadi salah satu faktor bagi orang Dani meninggalkan
zaman batu dan menyongsong masuknya modernisasi.
link ebook boat kamooh :
ridwan keceh badai beudh eaaa
testtttt
link ebook boat kamooh :
ridwan keceh badai beudh eaaa
testtttt









0 komentar:
Posting Komentar