Unordered List




Adinda

Keren kak, makasih infonya :D




Annonymus

Bagus, tambah lagi kak suku2nya biar lebih lengkap


K.H Abdurrahman Wahid

"Tidak penting apapun agama atau sukumu... kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu..."

CAK NUN

"...Yang mana yang harus kita lakukan lebih banyak?, minta maaf sebanyak-banyaknya, ataukah menyiapkan per-maaf-an yang seluas-luasnya?..."

Ir. Soekarno

"...Jika kita mempunyai keinginan yang kuat dari dalam hati, maka seluruh alam semesta akan bahu-membahu mewujudkannya..."

Albert Einstein

"...Cobalah untuk tidak menjadi orang yang SUKSES, tapi jadilah seorang yang BERNILAI..."

Iwan Fals

"...Hei jangan ragu dan jangan malu, tunjukkan pada dunia bahwa sebenarnya kita mampu..."

Kamis, 16 Juni 2016

Profil Mentawai



sumber : https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/5a/Mentawai_Islands_Topography.png/220px-Mentawai_Islands_Topography.png


Asal-usul dan letak geografis Suku Mentawai

Mentawai merupakan negara kepulauan yang ditemukan di lepas pantai barat Sumatera (Indonesia) yang terdiri dari sekitar 70 pulau dan pulau. Empat pulau utama adalah Utara dan Pagai Selatan, Sipora, dan Siberut; dengan Siberut – mencakup 4.480 kilometer persegi dan dengan jumlah penduduk sekitar 29.918 (Regional Autonomy Website. c.2000.); yang 90% adalah penduduk asli asal Mentawai, yang lain 10% dianggap terdiri dari Minangkabau, Jawa, dan Batak (Bastide, 2008) – menjadi empat dari yang terbesar. Asal usulnya yang menjadi perdebatan menjadikan suku ini suku yang misterius. Ada yang berpendapat termasuk bangsa polynesia ada yang berpendapat merupakan bangsa proto-malayan (melayu tua). Tempatnya yang terisolasi terpisah dari jaman pleistosin karena naiknya permukaan laut menjadikan budayanya berbeda dengan suku2 terdekatnya

Para nenek moyang orang Mentawai adat diyakini telah bermigrasi pertama ke wilayah tersebut di suatu tempat antara 2000 – 500 SM (Reeves, 2000), sedangkan penjajah pertama dinyatakan, dalam dokumentasi awal oleh John Crisp yang mendarat di pulau-pulau pada tahun 1792, telah tiba pada pertengahan 1700 di perjalanan orang Inggris yang membuat upaya gagal dan untuk mendirikan sebuah pemukiman pertanian lada di sebuah pulau selatan Pagai Selatan (Crisp, 1799). Selama bertahun-tahun sebelum perdagangan ini ada antara masyarakat adat dan daratan Sumatera Cina dan Melayu (Francis, 1839).

Kesederhanaan hidup suku Mentawai terlihat dari cara mereka berpakaian. Pada umumnya, pakaian suku Mentawai masih tradisional. Kaum lelaki Mentawai masih mengenakan Kabit yakni penutup bagian tubuh bawah yang hanya terbuat dari kulit kayu. Sementara bagian tubuh atas dibiarkan telanjang begitu saja tanpa mengenakan sehelai kain.

Sikerei, tetua di Mentawai-pun masih mengenakan Kabit. Lain halnya dengan kaum wanita, untuk menutup tubuh bagian bawah, mereka menguntai pelepah daun pisang hingga berbentuk seperti rok. Sementara untuk tubuh bagian atas, mereka merajut daun rumbia hingga berbentuk seperti baju. Kalaupun ada suku Mentawai yang mengenakan kain sarung ataupun pakaian lengkap, jumlahnya hanya beberapa orang saja. 


sumber : http://sky-adventure.com/wp-content/uploads/2015/10/Rumah-Suku-Mentawai.jpg


Struktur Sosial

Masyarakat Mentawai bersifat patrinial dan kehidupan sosialnya dalam suku disebut "uma". Struktur sosial tradisional adalah kebersamaan, mereka tinggal di rumah besar yang disebut juga "uma" yang berada di tanah-tanah suku. Seluruh makanan, hasil hutan dan pekerjaan dibagi dalam satu uma.

Kelompok-kelompok patrilinial ini terdiri dari keluarga-keluarga yang hidup di tempat-tempat yang sempit di sepanjang sungai-sungai besar. Walaupun telah terjadi hubungan perkawinan antara kelompok-kelompok uma yang tinggal di lembah sungai yang sama, akan tetapi kesatuan-kesatuan politik tidak pernah terbentuk karena peristiwa ini.
Struktur sosial itu juga bersifat egalitarian, yaitu setiap anggota dewasa dalam uma mempunyai kedudukan yang sama kecuali "sikerei" (atau dukun) yang mempunyai hak lebih tinggi karena dapat menyembuhkan penyakit dan memimpin upacara keagamaan.

Secara tradisional uma mempunyai wewenang tertinggi di Siberut. Selama rezim Orba fungsi organisasi sosial uma kurang begitu berfungsi tetapi sejak era reformasi uma mulai digalakkan kembali dibeberapa Desa dengan dibentuknya Dewan Adat. Sejak otonomi daerah bergulir direncanakan satuan pemerintah terendah yaitu “ laggai”.


 
sumber : http://sky-adventure.com/wp-content/uploads/2015/10/Mengenal-Suku-Mentawai-Indonesia.jpg


Budaya Tradisional

Menurut agama tradisional Mentawai (Arat Sabulungan) seluruh benda hidup dan segala yang ada di alam mempunyai roh atau jiwa (simagre). Roh dapat memisahkan dari tubuh dan bergentayangan dengan bebas. Jika keharmonisan antara roh dan tubuhnya tidak dipelihara, maka roh akan pergi dan dapat menyebabkan penyakit.
Konsep kepercayaan ini berlaku dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kegiatan keseharian yang tidak sesuai dengan adat dan kepercayaan maka dapat mengganggu keseimbangan dan keharmonisan roh di alam.

Upacara agama dikenal dengan sebagai punen, puliaijat atau lia harus dilakukan bersamaan dengan aktivitas manusia sehingga dapat mengurangi gangguan. Upacara dipimpin oleh para sikerei yang dapat berkomunikasi dengan roh dan jiwa yang tidak dapat dilihat orang biasa. Roh makhluk yang masih hidup maupun yang telah mati akan diberikan sajian yang banyak disediakan oleh anggota suku. Rumah adat (uma) dihiasi, daging babi disajikan dan diadakan tarian (turuk) untuk menyenangkan roh sehingga mereka akan mengembalikan keharmonisan. Selama diadakan acara, maka sistem tabu atau pantangan (kekei) harus dijalankan dan terjadi pula berbagai pantangan terhadap berbagai aktivitas keseharian.

Kepercayaan tradisional dan khususnya tabu inilah yang menjadi kontrol sosial penduduk dan mengatur pemanfaatan hutan secara arif dan bijaksana dalam ribuan tahun.
Bagaimanapun juga, sekarang kebudayaan tersebut berangsur hilang. Populasi penduduk tumbuh dengan cepat dan sumberdaya alam dieksploitasi tanpa mengindahkan peraturan tradisional sehingga berdampak menurunya daya dukung lingkungan yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat Mentawai.

Dalam melakukan kegiatan berburu, pembuatan sampan, merambah/membuka lahan untuk ladang atau membangun sebuah uma maka biasanya dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh anggota uma dan pembagian kerja dibagi atas jenis kelamin. Setiap keluarga dalam satu uma membawa makanan (ayam, sagu, dll) yang kemudian dikumpulkan dan dimakan bersama-sama oleh seluruh anggota uma setelah selesai melaksanakan kegiatan/upacara.

Makanan pokok masyarakat di Siberut adalah sagu (Metroxylon sagu), pisang dan keladi. Makanan lainnya seperti buah-buahan, madu dan jamur diramu dari hutan atau ditanam di ladang. Sumber protein seperti rusa, monyet dan burung diperoleh dengan berburu menggunakan panah dan ikan dipancing dari kolam atau sungai.




Lokal Wisdom DKI Jakarta


RUMAH ADAT BETAWI DI ANJUNGAN DKI JAKARTA TMII

Oleh: Dewi Nursalina 11140321000009





RUMAH ADAT BETAWI

Rumah Adat Betawi yang berada di Anjungan DKI Jakarta Taman Mini Indnesia Islam (TMII) merupakan Rumah Adat yang disebut dengan Rumah Kebaya. Di Betawi sendiri, tidak hanya ada Rumah Kebaya, tetapi ada juga rumah yang disebut Rumah Bapang. Secara spesifikasinya, perbedaan antara Rumah Kebaya dan Rumah Bapang itu sedikit. Rumah Bapang itu polos, tidak memiliki beranda atau yang biasa disebut teras sedangkan Rumah Kebaya memiliki teras dan dari segi atap rumah, tiang, jendela dan yang lainnya antara Rumah Kebaya dan Rumah Bapang tidak ada bedanya.

Rumah Kebaya merupakan sebuah nama rumah adat Suku Betawi. Disebut Rumah Kebaya dikarenakan bentuk atapnya yang menyerupai pelana yang dilipat dan apabila dilihat dari samping maka lipatan-lipatan tersebut terlihat seperti lipatan kebaya.

Ditinjau pada zaman dahulu, Rumah Adat nya sendiri berbentuk panggung karena pada zaman dahulu masyarakat asli Suku Betawi sedikit dan dahulu DKI Jakarta masih banyak rawa dan juga sawah-sawah. Jadi kegunaan rumah panggung itu sendiri adalah menghindari dari air yang berada di rawa dan juga sawah.

Selain Rumah Kebaya, Suku Betawi juga memiliki Rumah Adat lainnya seperti Rumah Gudang dan Rumah Joglo meskipun Suku Betawi memiliki tiga Rumah Adat, akan tetapi secara resminya di Suku Betawi itu sendiri Rumah Adatnya adalah Rumah Kebaya. Perbedaan yang melekat diantara ketiga rumah ini yakni pada Ruma Gudang bentuk rumahnya memanjang sedangkan Rumah Joglo pada atapnya ditengah-tengah atap seperti berbentuk lonjong ke atas, jadi atapnya ini di bagian depan dan belakangnya rata dan ditengah-tengah atapnya berbentuk setengah lonjong. Rumah Adat Betawi ini menggunakan kayu nangka karena pada kayu nangka tidak mudah lapuk, tahan pada cuaca apapun serta tidak menggunakan kayu jati dikarenakan kayu jati yang harganya sangat mahal dan di Jakarta sendiri kayu jati sangatlah langka.

Ciri khas dari Rumah Kebaya ini ialah rumah ini memiliki teras yang luas yang berguna untuk menjamu tamu dan menjadi tempat untuk bersantai keluarga. Dinding rumahnya pun terbuat dari planel-planel yang dapat dibuka dan digeser-geser ke tepinya. Hal tersebut dilakukan agar rumah tersebut terasa lebih luas.

Rumah ini dapat dibedakan menjadi dua bagian dari segi sifatnya yaitu bagian depan bersifat semi publik dan bagian belakang yang bersifat pribadi. Yang pertama yaitu bagian depan yang bersifat semi publik yakni setiap orang yang melihat rumah tersebut akan merasa asri dan sejuknya rumah tersebut dan yang kedua bagian belakang yang bersifat pribadi karena bagian rumah ini hanya boleh dilihat oleh orang-orang dekat dari pihak pemilik rumah tersebut.



MATERIAL RUMAH ADAT BETAWI

1.      Material Atap

Material yang digunakan untuk menutupi atap rumah adalah genteng atau atep[1], kontruksi kuda-kuda dan gording[2] yang menggunakan kayu gowok atau kayu kecapi, balok tepi terutama diatas dinding luar menggunakan kayu nangka yang sudah tua, sedangkan kaso[3] dan reng[4] yang menggunakan bambu tali yaitu bambu yang batangnya setelah dibelah-belah dapat dijadikan tali. Keterangan material ini adalah Pondasi Umpak.

2.      Material Dinding

Material yang digunakan untuk dinding depan adalah kayu gowok atau kayu nangka yang terkadang di cat dengan dominasi warna kuning dan hijau. Dinding rumah lainnnya menggunakan bahan anyaman bambu dengan atau tanpa pasangan bata dibagian bawahnya. Daun pintu atau jendela biasanya terdiri dari rangka kayu dengan jalusi horizontal[5] pada bagian atapnya atau pada keseluruhan daun pintu atau jendela. Keterangan material ini adalah Pintu Jalusi.

3.      Material Struktur

Bahan yang digunakan untuk pondasi rumah adalah batu kali dengan sistem pondasi umpak (pondasi rumah atau tiang yang terbuat dari batu) yang diletakkan dibawah setiap kolom, sementara untuk landasan dinding digunakan pasangan batu bata dengan kolom dari kayu nangka yang sudah tua.



GAMBAR RUMAH ADAT BETAWI



  IMG-20160512-WA018

IMG-20160512-WA020  IMG-20160512-WA011

IMG-20160512-WA012  IMG-20160512-WA013

 

IMG-20160512-WA016  IMG-20160512-WA017





**) hasil wawancara dengan narasumber Tarmizi.



[1] Daun kirai yang dianyam
[2] Balok kayu mendatar yang letaknya diatas kuda-kuda
[3] Balok kayu dengan ukuran 4x6 cm atau 5x7 cm yang berfungsi sebagai dudukan reng
[4] Balok kayu dengan ukuran 2x3 cm atau 3x4 cm yang berfungsi sebagai dudukan atap genteng
[5] Jalusi adalah pintu yang memiliki lubang udara pada pintu yang membuat sirkulasi udara tetap terjaga dalam ruangan yang tertutup seperti pada kamar mandi

Jurnal Suku Dani 2

jadi pada jurnal ini akan membahas tentang Memahami Sistem Pengetahuan Budaya Masyarakat Pegunungan Tengah, Jayawijaya, Papua dalam Konteks Kebencanaan, terutama dalam Suku Dani.

Jurnal Suku Dani

Pada jurnal ini akan membahas tentang jenis tanaman berguna bagi suku Dani di lembah Baliem, Papua. Dimana pada kedua studi lapangan ini berhasil mengidentifikasikan minimal 35 jenis tanaman berguna yang dimanfaatkan suku Dani untuk berbagai keperluan.

Tuddukat

Membuat Sampan





Membuat Sampan

Pertama-tama kita harus mengakui tabu, lalu mulai tumbang pohon. Tabu ini berlaku untuk dua orang yang membahas cara membuat sampan, jadi sebelum menebang pohon, mereka berkompromi. Kemudian mulai untuk membuat sampan dengan menumbang pohon, lalu memotong pohon tersebut hingga jatuh ke permukaan tanah. Setelah itu mulai membentuk sampan, setelah berbentuk sampan, ambil bagian dalamnya. Lalu dimiringkan untuk membuat bagian samping kanan dan kiri, sesudah itu bentuk punggungnya. Setelah semuanya selesai, lalu membuat jalan sampai keluar, tarik sampan tersebut sampai keluar dari hutan. Tapi bila kita ingin menarik sampan tersebut harus mencari anggota terlebih dahulu yang jumlahnya seimbang diantara kedua orang tersebut, isalnya Toni 3 dan Tobi 3 jadi enam. Untuk jasa yang telah menolong, mereka menawarkan babi dan ayam untuk orang tersebut makan, lalu semuanya berpesta. Pantangan untuk orang yang membuat sampan yakni seperti asam atau berbagai jenis daun pakis.

Sikerei dari dusun Buttui