AGAMA
TRADISIONAL SUKU SUNDA
DISUSUN
UNTUK MEMENUHI TUGAS AGAMA-AGAMA LOKAL
DOSEN PENGAMPU : DRA. SITI NADROH, MA.
DISUSUN
OLEH :
DEWI
NURSALINA (11140321000009)
MUHAMMAD
WAHYU (11140321000010)
RIDWAN
EFENDI (11140321000023)
PROGRAM STUDI
PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2016
A.
Asal-Usul Agama Sunda Wiwitan
Sunda wiwitan
berasal dari kata sunda dan wiwitan. Istilah kata “sunda” menurut
P.Djatikusumah dimaknai dalam tiga kategori konsep mendasar, yaitu:
1.
Sunda filosofis:
sunda berarti bodas (putih), bersih, cahaya, indah, bagus, cantik, baik dan
sebagainya.
2.
Sunda etnis:
sunda berarti merujuk pada komunitas masyarakat suku bangsa sunda yang tuhan
ciptakan seperti halnya suku dan bangsa lain di muka bumi. Dalam hal ini
tentunya berkaitan pula dengan kebudayaan sunda yang melekat cara dan ciri
manusia sunda itu sendiri.
3.
Sunda geografis:
sunda berarti mengacu sebagai penamaan suatu wilayah geografis berdasarkan peta
dunia sejak masa lalu terhadap wilayah Indonesia atau nusantara yaitu sebagai
tataran wilayah sunda besar (the greater sunda island) meliputi himpunan pulau yang
berukuran besar (Sumatra, Jawa, Madura,
Kalimantan) dan sunda kecil (the lesser sunda island) yaitu deretan pulau yang
berukuran lebih kecil yang terletak di sebelah timur pulau jawa (Pulau
Bali,
Lombok, Flores, Sumbawa, Sumba, Rote
dll.).[1]
Dengan demikian, sunda wiwitan secara harfiah berarti orang etnis
sunda awal atau awal mula orang sunda. Sunda wiwitan yang sejauh ini dianggap
oleh para antropolog Indonesian sebagaisalah satu konsep sistem religi dan identitas
masyarakat sunda khususnya masyarakat baduy atau kanekes.
Muhammad Rais yang lebih popular dengansebutan Madrais, “pendiri”
agama Djawa Sunda atau Sunda Wiwitan, menurut riwayat adalah seorang pangeran
dari Gebang, sebuah pusat kekuasaan jaman VOC yang letaknya disebelah timur
Cirebon, kira-kira 9 km dari kota Losari, kabupaten Brebes, menurut keadaan
sekarang. Gebang dahulunya merupakan bagian dari kesultanan Cirebon, dan oleh
campur tangan VOC di tahun 1689 Gebang memisahkan diri dari kesultanan Cirebon.
Pemisahan ini merupakan keinginan pangeran Gebang, karena dengan
menjadi bawahan Cirebon yang telah mengikat perjanjian menjadi sekutu VOC.
Sejak itu, Gebang menjadi pusat kekuasaan yang merdeka, sama statusnya dengan
Cirebon dan daerah-daerah lainnya seperti Sumedang,
Indramayu,
Pamanukan,
Ciasem,
Tanjung
Pura
dan Priangan.
Pada akhir abad 18 terjadi pemberontakan rakyatGebang, sasaran
pemberontakan adalah orang-orang cina dan VOC serta penguasa Cirebon, karena
dianggap telah menjadi antek VOC. Tahun 1802 meletus pemberontakan rakyat yang
dipimpin oleh Sidung Arisim dan suarsa dari Gebang. Setelah pemberontakan itu
dapat ditumpas maka pangeran gebang dicopot dari kekuasaan karena dianggap
tidak dapat mengendalikan rakyatnya. Wilayah gebang lalu dibagi menjadi tiga
kesultanan Cirebon, yakni kasepuhan, kanoman dan kacirebonan. Pangeran gebang
terakhir yang berkuasa waktu itu adalah Pangeran Alibasa.
Ia merupakan pangeran Gebang ke 9.
Pangeran Alibasa menikah dengan R Kastewi, keturunan kelima tumenggung
Jayadipa susukan, dari perkawinan ini lahirlah pangeran sadewa pada tahun 1822,
dalam silsilah ia juga dikenal sebagai Pangeran Surya
Nata. Pada usia 3 tahun, anak tersebut dititipkan kepada Ki
Sastrawadana di desa Cigugur, Kuningan dan diberi nama Madrais. Pangeran Madrais mendirikan
pesantren di Cigugur, Madrais dikenal sebagai kyai yang sangat alim dan berpengaruh luas.
Setelah keraton Cirebon mengakui asal-usulnya, maka diperbolehkan ia memakai
gelar kebangsawanannya. Dipakailah nama ayahnya, dan jadilah nama lengkapnya
Pangeran Sadewa Alibasa Kusuma Wijaya Ningrat, sebagai pemimpin pesantren yang
berpengaruh, nama populernya kyai Madrais.[2]
Sebagai kyai, Madrais tentulah seorang yang alim dalam agama Islam,
namun dalam perkembangannya ia menemukan ajaran baru yang sebagiannya kemudian
bertentangan dengan agama Islam, ajaran itu adalah berkenaan pentingnya setiap
manusia itu memperhatikan dan memberi penghargaan yang tinggi terhadap cara dan
ciri kebangsaannya sendiri, yakni Jawa Sunda. Sepeninggal kyai Madrais,
ajaran yang sudah terkenal dengan sebutan agama djawa sunda ituterus
dikembangkan oleh puteranya, Pangeran Tedjakusuma, dan kemudian Pangeran Djati
Kusumah sekarang ini.
B.
Pendiri dan Tokoh-Tokohnya
Pendiri
dan tokoh dari sunda wiwitan disini dapat kita kelompokan menjadi tiga periode
sejarah.
1.
Periode Madrais
Madrais merupakan tokoh pendiri dari Agama
Djawa Sunda atau sunda wiwitan yang juga merupakan
seorang kyai pada masa kesultanan Cirebon. Pendirian Agama Djawa Sunda oleh
Madrais dilakukan atas anjuran dari Gubernur Deandles, saat itu Deandles
mengatakan agar ajaran Sunda Wiwitan (Sunda yang asli) yaitu keyakinan asli
sunda sebelum masuknya agama Islam dijadikan
satu agama. Anjuran ini bermakna dua. Pertama, Madrais dijebak oleh kolonial untuk
mengadu domba dan membuat kerusuhan seperti yang diyakini pengikutnya, dan
kedua Madrais merupakan “perselingkuhan” dengan Belanda supaya agama katholik
bisa masuk ke daerah kuningan, ini terlihat dari
ucapan Madrais bahwa kelak akanada kerusuhan dan supaya aman hendaklah berteduh
dibawah pohon cemara putih.
2.
Periode Tedjabuana
Selepas Madrais
meninggal tahun 1939, kedudukan pimpinan ADS digantikan oleh anaknya, yaitu
Tedjabuana. Dia memimpin sampai tahun 1976, dalam perjalanan sejarahnya,
penghayat kepercayaan pernah mengalami pencekalan dan pelarangan berkali-kali.
Hal ini terkait dengan kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah terhadap
keberadaan mereka. Seperti yang terjadi pada tahun 1944 oleh pemerintah jepang
dan pemimpinnya, Tedjabuana, dibuang ke Bandung kemudian
tahun 1954 ketika pemberontakan DI/TII masuk daerah Cigugur, dan
ketiga tahun 1964 setelah terjadi konflik dengan umat Islam.
Pemerintah saat itu melarang perkembangan ADS
dan memimpin ketika itu, Pangeran
Tedjabuana, anak dari Madrais, memerintahkan para pengikutnya untuk memasuki
agama apapun sesuai pilihan mereka. Dia sendiri kemudian menganut Agama Katholik, oleh
karena itu, tidak aneh jika banyak pengikutnya juga menganut Agama Katholik,
masuknya mereka ke dalam Agama katholik
bukan didasari oleh keyakinan akan kebenaran ajaran katholik, tetapi mengikuti
pemimpin mereka.
3.
Periode Djatikusumah
Setelah Tedjabuana, masyarakat yang mayoritas
sudah berpindah menjadi agama katholik dipimpin oleh Djatikusumah. Walaupun
telah menjadi katholik, namun ikatan emosional dengan pemimpinnya masih sangat
kuat.pada periode ini, upacara seren taun yang merupakan tradisi masyarakat
sunda secara umum dilaksanakan di Cigugur. Upacara
ini merupakan suatu upacara yang menggabungkan gelar budaya dan prosesi
spiritual masyarakat pasundan yang mnemiliki kedalaman makna sebagai bentuk
ungkapan rasa syukur pada tuhan yang telah melimpahkan kesejahteraan, berkah,
perlindungan dan kekayaan alam dan manfaatnya bagi kehidupan manusia, dari
upacara ini diharapkan hasil panen tahun depan akan lebih melimpah dan
memberikan kesejahteraan.
C.
Pokok-Pokok Ajaran Agama Sunda Wiwitan
Kekuasaan
tertinggi berada pada Sang Hyang Kersa
(Yang Mahakuasa) atau Nu Ngersakeun
(Yang Menghendaki). Dia juga disebut sebagai Batara Tunggal (Tuhan yang Mahaesa), Batara Jagat (Penguasa Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Gaib). Dia bersemayam di Buana Nyungcung. Semua dewa dalam
konsep Hindu (Brahma, Wisnu, Siwa, Indra, Yama, dan lain-lain) tunduk kepada
Batara Seda Niskala. [3]
Ada
tiga macam alam dalam kepercayaan Sunda Wiwitan seperti disebutkan dalam pantun
mengenai mitologi orang Kanekes:
1.
Buana Nyungcung: tempat
bersemayam Sang Hyang Kersa, yang letaknya paling atas.
2.
Buana Panca Tengah: tempat
berdiam manusia dan makhluk lainnya, letaknya di tengah.
3.
Buana Larang: neraka, letaknya paling bawah.
Antara
Buana Nyungcung dan Buana Panca Tengah terdapat 18 lapis alam yang tersusun
dari atas ke bawah. Lapisan teratas bernama Bumi Suci Alam Padang atau menurut kropak 630 bernama Alam Kahyangan atau Mandala Hyang. Lapisan alam kedua tertinggi itu merupakan
alam tempat tinggal Nyi Pohaci Sanghyang Asri dan Sunan Ambu.
Sang
Hyang Kersa menurunkan tujuh batara di Sasaka Pusaka Buana. Salah satu dari
tujuh batara itu adalah Batara Cikal, paling tua yang dianggap sebagai leluhur
orang Kanekes. Keturunan lainnya merupakan batara-batara yang memerintah di
berbagai wilayah lainnya di tanah Sunda. Pengertian nurunkeun (menurunkan) batara ini bukan melahirkan tetapi
mengadakan atau menciptakan.
Paham atau ajaran dari suatu agama
senantiasa mengandung unsur-unsur yang tersurat dan yang tersirat. Unsur yang
tersurat adalah apa yang secara jelas dinyatakan sebagai pola hidup yang harus
dijalani, sedangkan yang tersirat adalah pemahaman yang komprehensif atas
ajaran tersebut. Ajaran Sunda Wiwitan pada dasarnya berangkat dari dua prinsip,
yaitu Cara Ciri Manusia dan Cara Ciri Bangsa.[4]
Cara
Ciri Manusia adalah unsur-unsur dasar yang ada di dalam kehidupan manusia. Ada
lima unsur yang termasuk di dalamnya:
·
Welas asih: cinta kasih
·
Undak usuk: tatanan dalam kekeluargaan
·
Tata krama: tatanan perilaku
·
Budi bahasa dan budaya
·
Wiwaha yudha naradha: sifat dasar manusia yang
selalu memerangi segala sesuatu sebelum melakukannya
Kalau
satu saja cara ciri manusia yang lain tidak sesuai dengan hal tersebut maka
manusia pasti tidak akan melakukannya.
Prinsip
yang kedua adalah Cara Ciri Bangsa. Secara universal, semua manusia memang
mempunyai kesamaan di dalam hal Cara Ciri Manusia. Namun, ada hal-hal tertentu
yang membedakan antara manusia satu dengan yang lainnya. Dalam ajaran Sunda
Wiwitan, perbedaan-perbedaan antarmanusia tersebut didasarkan pada Cara Ciri
Bangsa yang terdiri dari:
·
Rupa
·
Adat
·
Bahasa
·
Aksara
·
Budaya[5]
Kedua prinsip ini tidak secara pasti tersurat
di dalam Kitab Sunda Wiwitan, yang bernama Siksa Kanda-ng karesian. Namun
secara mendasar, manusia sebenarnya justru menjalani hidupnya dari apa yang
tersirat. Apa yang tersurat akan selalu dapat dibaca dan dihafalkan. Hal
tersebut tidak memberi jaminan bahwa manusia akan menjalani hidupnya dari apa
yang tersurat itu. Justru, apa yang tersiratlah yang bisa menjadi penuntun
manusia di dalam kehidupan.
Awalnya,
Sunda Wiwitan tidak mengajarkan banyak tabu kepada para pemeluknya. Tabu utama
yang diajarkan di dalam agama Sunda ini hanya ada dua.
·
Yang tidak disenangi orang lain dan yang
membahayakan orang lain
·
Yang bisa membahayakan diri sendiri
Akan tetapi karena perkembangannya, untuk
menghormati tempat suci dan keramat (Kabuyutan,
yang disebut Sasaka Pusaka Buana dan Sasaka Domas) serta menaati serangkaian
aturan mengenai tradisi bercocok tanam dan panen, maka ajaran Sunda Wiwitan
mengenal banyak larangan dan tabu. Tabu (dalam bahasa orang
Kanekes disebut "Buyut") paling banyak diamalkan oleh mereka yang
tinggal di kawasan inti atau paling suci, mereka dikenal sebagai orang Baduy
Dalam.
Pokok
ajaran Sunda Wiwitan didasarkan pada kepercayaan akan Gusti Pangeran Sikang
Sawiji-wiji, tuhan pencipta alam semesta dengan segala sifat dan keunikan
tiap-tiap makhluk-Nya, salah satu wujud kemahakuasaan Tuhan adalah
diciptakannya manusia dengan cara-cirinya yang inheren, dan diciptakannya
bangsa yang juga memiliki cara-cirinya.
Pandangan
bahwa semua agama sama tidak lepas dari cara-ciri mansia dan cara-ciri bangsa
yang dalam konsep agama ini merupakan naluri, atau taken from granted dari Tuhan.
Pandangan seperti itu di satu pihakmerupakan dasar toleransi beragama ditengah
kemajemukan agama masyarakat Indonesia, dipihak lain merupakan identitas
mereka.
Pandangan
hidup masyarakat sunda wiwitan atau agama djawa sunda tentunya tidak terlepas
dari pandangan hidupnya Pangeran Madrais
selaku pendiri dari agama djawa sunda tersebut. Pada
awalnya sebagai pedoman filsafat atau pedoman teologis Pangeran
Madrais mengekspresikan pemikirannya dalam bentuk sebagai berikut:
1.
Percaya ka Gusti Sikang Sawiji-wiji (percaya kepada tuhan yang maha esa)
2.
Ngaji badan (mawas diri)
3.
Akur rukun jeung sasama bangsa (hidup
rukun dengan sesama)
4.
Hirup ulah pisah ti mufakat (mengutamakan
musyawarah untuk mencapai mufakat)
5.
Hirup kudu silih tulungan (hidup
harus saling tolong menolong)
Dalam
perkembangan selanjutnya tuntunan pangeran Madrais semakin di intensifkan.
Penyajian materi, tuntunan kepada pengikutnya dipusatkan di Cigugur,
Pangeran
Madrais tidak hanya berfatwa melainkan menunjukan pula ketauladannyadalam
konteks kehidupan sehari-hari. Semenjak itu pandangannya memperoleh wujud yang
semakin jelas lewat produk pemikiran yang disebut “pikukuh tilu” yang masih
diterapkan dan masih dijalankan oleh pemeluk agama djawa sunda di Cigugur.
Pikukuh yang berarti peneguh dan tilu yang berarti tiga. Tiga peneguh sebagai
landasan hidup untuk mencapai kesempurnaan hidup. Isi pikukub tilu itu ialah
Ngaji Badan, tuhu mituhu kana tanah, dan madep ka raja-ratu 3-2-4-5 lilima 6.
D.
Upacara Kegamaan Agama Sunda Wiwitan
Sebagai sebuah sistem
religi, Sunda Wiwitan tentu juga memiliki upacara-upacara keagamaan sebagai
bentuk penyembahan terhadap Tuhan. Menurut masyarakat suku Baduy, secara umum
ibadah didalam ajaran Sunda Wiwitan dibagi ke dalam dua jenis. Pertama adalah
ibadah umum, ibadah umum diyakini oleh masyarakat suku Baduy adalah ibadah yang
lebih mengarah kepada perilaku hidup sehari-hari sesuai ajaran Sunda Wiwitan,
dan yang kedua adalah ibadah khusus, ibadah khusus adalah ibadah yang untuk
melakukannya hanya ada di waktu-waktu tertentu yang telah ditetapkan, yaitu:
Kawalu, Ngalaksa, dan Seba. Selain ibadah umum dan ibadah khusus, ada
ketentuan-ketentuan lain di dalam ajaran Sunda Wiwitan yang mengatur cara hidup
dan berinteraksi antar masyarakat suku Baduy, antara lain: tata cara mendoakan
jenazah, tata cara mendoakan perempuan yang sedang hamil, dan lain sebagainya.
a.
Kawalu
Kawalu adalah salah satu bagian dari ibadah khusus bagi masyarakat suku
Baduy, Kawalu dilaksanakan selama tiga
bulan pada bulan Kasa, Karo, dan Katiga. Jika dikonversi ke dalam penanggalan
masehi maka kegiatan Kawalu dilaksanakan pada sekitar akhir bulan Desember
sampai dengan bulan Maret.
Secara kronologis Kawalu terbagi menjadi tiga, yaitu bulan Kawalu Tembay
(awal) di bulan Kasa, Kawalu Tengah di bulan Karo , dan Kawalu Tutug (besar
atau penutup) di bulan Katiga. Kegiatan inti
dari Kawalu adalah berpuasa pada bulan Kawalu
(Kasa,Karo, Katiga) selama satu hari penuh tanpa sahur hingga terbenam
matahari. Berpuasa hanya dilaksanakan selama satu hari pada setiap bulannya,
jadi total puasa yang dilaksanakan oleh masyarakat suku Baduy adalah tiga hari.
Selama Kawalu berlangsung wilayah
terutama Baduy Dalam tidak diperbolehkan didatangi oleh tamu dalam jumlah
besar, sedangkan untuk tamu yang datang secara perorangan masih bisa
diterima apabila ada salah satu dari orang Baduy Dalam yang dikenal.
b.
Ngalaksa
Ngalaksa juga menjadi salah satu bagian dari ibadah
khusus bagi masyarakat suku Baduy yang dilaksanakan pada setiap bulan Katiga
didalam penanggalan adat masyarakat suku Baduy. Ngalaksa menjadi sebuah ibadah
khusus yang juga dilaksanakan pada salah satu bulan Kawalu, yaitu bulan katiga.
Kegiatan inti dari Ngalaksa adalah pembuatan makanan yang diberi nama laksa,
laksa merupakan makanan yang harus dibuat pada pelaksanaan Ngalaksa. Laksa
merupakan makanan sejenis mie yang berbentuk pipih dan lebar yang terbuat dari
tepung beras. Ngalaksa dilaksanakan oleh seluruh masyarakat suku Baduy dari wilayah suku Baduy Dalam dan
wilayah suku Baduy Luar. Mereka berkumpul dikampung Cibeo yang menjadi pusat
dari pelaksanaan Ngalaksa.
Ibadah
khusus Ngalaksa merupakan waktu dimana
seluruh masyarakat suku Baduy berkumpul.
Laksa yang telah dibuat kemudian dibagikan secara menyeluruh tanpa terkecuali
meskipun ada yang masih bayi. Pelaksanaan Ngalaksa juga dimanfaatkan sebagai
kegiatan sensus bagi masyarakat suku Baduy, karena pada saat itu semua
berkumpul di satu tempat dan satu waktu. Selain membuat laksa, Ngalaksa juga
dijadikan sebagai momen untuk “ngasah diri” dan tutup tahun di dalam
penanggalan adat masyarakat suku Baduy.
c.
Seba
Ibadah
khusus yang lain adalah Seba, yang dilaksanakan setelah Kawalu dan Ngalaksa.
Seba adalah ibadah khusus yang dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur atas
hasil panen yang diterima selama satu tahun. Bentuk pelaksanaan Seba adalah
dengan mengunjungi pemerintah daerah untuk bersilaturahmi dan juga
berkoordinasi. Di dalam Seba masyarakat suku Baduy pergi dengan rombongan besar
untuk bersilahturami dengan membawa berbagai macam hasil bumi yang berasal dari
tanah mereka.
Masyarakat
suku Baduy menganggap Seba sebagai sebuah hari raya besar yang dilakukan
setelah dua ibadah khusus lainnya, yaitu Kawalu dan Ngalaksa. Pemerintah daerah
yang menjadi tujuan dari masyarakat suku Baduy untuk bersilaturahmi adalah
pemerintah Provinsi Banten, kegiatan itu dimanfaatkan oleh mereka sebagai
sarana untuk berkoordinasi dan melaporkan situasi serta perkembangan dari
wilayah adat suku Baduy.
Upacara
Seren Taun adalah ungkapan syukur dan doa masyarakat Sunda atas suka duka yang
mereka alami terutama di bidang pertanian selama satu tahun yang telah berlalu
dan yang akan datang.
Dalam
upacara Seren Taun, digelar berbagai acara selain ritual-ritual yang bersifat
sakral, digelar pula berbagai atraksi kesenian dan hiburan. Dengan
kata lain, upacara ini tidak hanya meliputi kegiatan spiritual dalam kaitan
hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama makhluk atau alam ,
baik lewat kegiatan kesenian, pendidikan, sosial
ataupun budaya.
Ada
beberapa rangkaian acara yang biasa digelar dalam perayaan upacara Seren Taun,
yakni:
1.
Ngajayak
Ngajayak
merupakan acara penjemputan padi dari tempat penjuru mata angin. Padi yang
dibawa dari empat penjuru mata angin ini kemudian dibawa dan dikumpulkan di
gedung Paseban. Padi yang telah terkumpul sebagian akan disimpan dan sebagian
lagi akan ditulu (ditumbuk) secara tradisional oleh penduduk. Beras
hasil tumbukan akan dibagikan kepada penduduk akan tetapi padi yang terkumpul
akan dipergunakan sebagai benih untuk proses menanam di tahun yang akan datang.
Acara Ngajayak diadakan pada tanggal 18 Rayagung.
2.
Tari Buyung
Tari
Buyung merupakan tarian hasil refleksi ibu Amelia Djatikusumah,istri Pangeran
Djatikusumah dari keseharian ibu-ibu dan pemudi Cigugur yang setiap hari
mengambil air dari sungai dengan menggunakan buyung, sejenis wadah yang terbuat
dari tanah liat. Tarian ini diperkenalkan pada masyarakat Cigugur pada tahun
2002 melalui acara Seren Taun. Tujuan dimasukannya tarian yang masih terbilang
baru ini, merupakan suatu bentuk kreatifitas yang menjadi contoh untuk generasi
mendatang.
3.
Pesta Dadung
Pesta
Dadung merupakan upacara sakral yang
dilaksanakan di Mayasih, yang dahulu dikenal dengan Situ Hyang. Asal kata dari
situ dan hyang. Situ merupakan tempat dan hyang bermakna sempurna atau
penyempurna. Hyang yang merupakan tempat di daerah Kabuyutan lama di tatar
Sunda yang fungsinya sebagai penyempurna dan penyeimbang. Konon tempat tersebut
dipercaya sebagai tempat yang dapat “menyempurnakan” unsur negatif
untuk menjaga keseimbangan antara kekuatan positif dan negatif di
alam. Jadi, makna penyelenggaraan pesta Dadung di Mayasih sebagai upaya meruat
dan menjaga keseimbangan alam agar hama dan unsur negatif tidak mengganggu
kehidupan manusia.
Pelaksanaan
didahului oleh suka ria budak angon atau pengembala dengan menggunakan dadung
atau tambang dari ijuk berwarna hitam yang kemudian diakhiri dengan acara
membuang hama. Budak angon dalam tradisi Sunda dimaknai bukan hanya pengembala
namun sesuai dengan “wangsit siliwangi” adalah figur atau sosok yang ditunggu,
figur pemimpin yang sederhana dan dapat melayani orang banyak.
4.
Ngareremokeun
Ngareremokeun
merupakan satu upacara yang dilakukan untuk mengawinkan benih padi jantan dan
betina. Dalam tradisi Sunda Ngareremokeun merupakan tahap bertemunya Sang Hyang
Asri Pwah Aci yang disimbolkan dalam kekuatan tumbuhnya pucuk pohon (energi
maskulin) dan kesuburan tanah (energi feminim).
5.
Tarawangsa
Berdasarkan
sumber lisan dari tokoh-tokoh seni Tarawangsa berasal dari Mataram
kira-kira abad ke-17M. Pada waktu itu Sumedang di bawah pemerintahan Kerajaan
Mataram. Di antara sesepuh Ranca Kalong yaitu Mbah Riguna, Mbah Jakusumah, Mbah
Sumanimbang, Mbah Wisa Negara, dan Icah. Mereka mengajukan permohonan kepada
Raja Mataram agar diberi alat-alat kesenian yang dapat digunakan untuk hiburan
setelah panen. Dengan restu sang raja, mereka diberi dua buah alat kesenian
yakni tarawangsa berkawat dua dan sebuah kecapi berkawat tujuh. Kemudian mereka
berlatih dan kemudian terwujudlah seni tarawangsa.
Seni
tarawangsa disebut juga seni jentreng menginduk kepada suara kecapi,
juga ada yang menamai ngengkreng menginduk kepada suara tarawangsa. Pada
awalnya yang dipentaskan hanya tabuhan kecapi dan tarawangsa saja, akan tetapi
agar lebih menarik, akhirnya tarawangsa dilengkapi dengan tarian sederhana yang
disebut tari Badaya.
6.
Damar Sewu
Damar
Sewu merupakan sebuah gelaran budaya yang mengawali rangkaian upacara Seren
Taun. Damar Sewu memiliki beberapa aspek
yang syarat dengan makna-makna spiritual. Diawali dengan rajah pembuka yang
merupakan ungkapan bentuk rasa syukur dan pujian manusia kepada Tuhan yang maha
Esa, yang telah memberikan kelengkapan jasmani dan rohani sebagai penuntun
kepada kesadaran terhadap eksistensi dan tujuan hidupnya.
7.
Tari Pwah Aci
Pwah
Aci atau biasa dikenal dengan Dewi Sri merupakan
tokoh yang telah melegenda dan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat
agraris tatar sunda. Ia dihormati sebagai dewi kesuburan dan kemakmuran yang
mencurahkan welas asih dalam bentuk pangan bagi keberlangsungan hidup manusia.
Tari Pwah Aci merupakan salah satu seni tari spiritual yang di dalamnya
tersirat ungkapan rasa hormat dan bakti kepada sang pemberi hidup melalui
gerakan dan ekspresi.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdurrahman, Skripsi Konsep Ajaran Agama Islam Dalam
Kepercayaan Sunda Wiwitan Masyarakat Desa Kanekes, Jakarta: UIN Jakarta, 2014.
Hariyanto, Didik, Skripsi Implementasi Kepercayaan Sunda
Wiwitan Sebagai Falsafah Dalam Kehidupan Masyarakat Cigugur, Jakarta: UIN
Jakarta, 2013.
Mulyana, dedi, Skripsi Tuhan dan Manusia Dalam
Perspektif Aliran Kebatinan Djawa Sunda, Jakarta: UIN Jakarta, 2010
Nuraini, Skripsi Kearifan Budaya Lokal Sunda
Wiwitan Terhadap Masyarakat Cigugur, Jakarta: UIN Jakarta, 2014.
Yusuf, Angga Syaripudin, Skripsi Kerukunan Umat
Beragama Antara Islam Kristen dan Sunda Wiwitan, Jakarta: UIN Jakarta, 2014.
[1]
Nuraini, Skripsi Kearifan Budaya Lokal Sunda Wiwitan Terhadap Masyarakat
Cigugur, Jakarta: UIN Jakarta, 2014. Hal. 56
[2]
Suhanah, Dinamika Agama Lokal di Indonesia, (Jakarta: Puslitbang Kehidupan
Keagamaan, 2014). Hal 58
[4]
Abdurrahman, Skripsi Konsep Ajaran Agama Islam Dalam Kepercayaan Sunda Wiwitan
Masyarakat Desa Kanekes, (Jakarta: UIN Jakarta, 2014) hal 121
[5] Yusuf,
Angga Syaripudin, Skripsi Kerukunan Umat Beragama Antara Islam Kristen dan
Sunda Wiwitan, (Jakarta: UIN Jakarta, 2014) hal. 32







0 komentar:
Posting Komentar