![]() |
| sumber : https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/5a/Mentawai_Islands_Topography.png/220px-Mentawai_Islands_Topography.png |
Asal-usul dan letak geografis Suku Mentawai
Mentawai merupakan negara kepulauan yang ditemukan di
lepas pantai barat Sumatera (Indonesia) yang terdiri dari sekitar 70 pulau dan
pulau. Empat pulau utama adalah Utara dan Pagai Selatan, Sipora, dan Siberut;
dengan Siberut – mencakup 4.480 kilometer persegi dan dengan jumlah penduduk
sekitar 29.918 (Regional
Autonomy Website. c.2000.); yang 90% adalah penduduk asli asal Mentawai, yang
lain 10% dianggap terdiri dari Minangkabau, Jawa, dan Batak (Bastide, 2008)
– menjadi empat dari yang terbesar.
Asal usulnya yang menjadi perdebatan menjadikan suku ini suku yang misterius. Ada
yang berpendapat termasuk bangsa polynesia ada yang berpendapat merupakan
bangsa proto-malayan (melayu tua). Tempatnya yang terisolasi terpisah dari
jaman pleistosin karena naiknya permukaan laut menjadikan budayanya berbeda
dengan suku2 terdekatnya
Para nenek moyang orang Mentawai adat diyakini telah
bermigrasi pertama ke wilayah tersebut di suatu tempat antara 2000 – 500 SM
(Reeves, 2000), sedangkan penjajah pertama dinyatakan, dalam dokumentasi awal
oleh John Crisp yang mendarat di pulau-pulau pada tahun 1792, telah tiba pada
pertengahan 1700 di perjalanan orang Inggris yang membuat upaya gagal dan untuk
mendirikan sebuah pemukiman pertanian lada di sebuah pulau selatan Pagai
Selatan (Crisp, 1799). Selama bertahun-tahun sebelum perdagangan ini ada antara
masyarakat adat dan daratan Sumatera Cina dan Melayu (Francis, 1839).
Kesederhanaan hidup
suku Mentawai terlihat dari cara mereka berpakaian. Pada umumnya, pakaian suku
Mentawai masih tradisional. Kaum lelaki Mentawai masih mengenakan Kabit
yakni penutup bagian tubuh bawah yang hanya terbuat dari kulit kayu. Sementara
bagian tubuh atas dibiarkan telanjang begitu saja tanpa mengenakan
sehelai kain.
Sikerei, tetua di
Mentawai-pun masih mengenakan Kabit. Lain halnya dengan kaum wanita,
untuk menutup tubuh bagian bawah, mereka menguntai pelepah daun pisang
hingga berbentuk seperti rok. Sementara untuk tubuh bagian atas, mereka merajut
daun rumbia hingga berbentuk seperti baju. Kalaupun ada suku Mentawai
yang mengenakan kain sarung ataupun pakaian lengkap, jumlahnya hanya beberapa
orang saja.
![]() |
| sumber : http://sky-adventure.com/wp-content/uploads/2015/10/Rumah-Suku-Mentawai.jpg |
Struktur Sosial
Masyarakat Mentawai
bersifat patrinial dan kehidupan sosialnya dalam suku disebut "uma".
Struktur sosial tradisional adalah kebersamaan, mereka tinggal di rumah besar
yang disebut juga "uma" yang berada di tanah-tanah suku. Seluruh
makanan, hasil hutan dan pekerjaan dibagi dalam satu uma.
Kelompok-kelompok patrilinial
ini terdiri dari keluarga-keluarga yang hidup di tempat-tempat yang sempit di
sepanjang sungai-sungai besar. Walaupun telah terjadi hubungan perkawinan
antara kelompok-kelompok uma yang tinggal di lembah sungai yang sama, akan
tetapi kesatuan-kesatuan politik tidak pernah terbentuk karena peristiwa ini.
Struktur sosial itu juga bersifat egalitarian, yaitu setiap anggota dewasa dalam uma mempunyai kedudukan yang sama kecuali "sikerei" (atau dukun) yang mempunyai hak lebih tinggi karena dapat menyembuhkan penyakit dan memimpin upacara keagamaan.
Struktur sosial itu juga bersifat egalitarian, yaitu setiap anggota dewasa dalam uma mempunyai kedudukan yang sama kecuali "sikerei" (atau dukun) yang mempunyai hak lebih tinggi karena dapat menyembuhkan penyakit dan memimpin upacara keagamaan.
Secara tradisional uma
mempunyai wewenang tertinggi di Siberut. Selama rezim Orba fungsi organisasi
sosial uma kurang begitu berfungsi tetapi sejak era reformasi uma mulai
digalakkan kembali dibeberapa Desa dengan dibentuknya Dewan Adat. Sejak otonomi
daerah bergulir direncanakan satuan pemerintah terendah yaitu “ laggai”.
![]() |
| sumber : http://sky-adventure.com/wp-content/uploads/2015/10/Mengenal-Suku-Mentawai-Indonesia.jpg |
Budaya Tradisional
Menurut agama
tradisional Mentawai (Arat Sabulungan) seluruh benda hidup dan segala yang ada
di alam mempunyai roh atau jiwa (simagre). Roh dapat memisahkan dari tubuh dan
bergentayangan dengan bebas. Jika keharmonisan antara roh dan tubuhnya tidak
dipelihara, maka roh akan pergi dan dapat menyebabkan penyakit.
Konsep kepercayaan ini berlaku dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kegiatan keseharian yang tidak sesuai dengan adat dan kepercayaan maka dapat mengganggu keseimbangan dan keharmonisan roh di alam.
Konsep kepercayaan ini berlaku dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kegiatan keseharian yang tidak sesuai dengan adat dan kepercayaan maka dapat mengganggu keseimbangan dan keharmonisan roh di alam.
Upacara agama dikenal
dengan sebagai punen, puliaijat atau lia harus dilakukan bersamaan dengan
aktivitas manusia sehingga dapat mengurangi gangguan. Upacara dipimpin oleh
para sikerei yang dapat berkomunikasi dengan roh dan jiwa yang tidak dapat
dilihat orang biasa. Roh makhluk yang masih hidup maupun yang telah mati akan
diberikan sajian yang banyak disediakan oleh anggota suku. Rumah adat (uma)
dihiasi, daging babi disajikan dan diadakan tarian (turuk) untuk menyenangkan
roh sehingga mereka akan mengembalikan keharmonisan. Selama diadakan acara,
maka sistem tabu atau pantangan (kekei) harus dijalankan dan terjadi pula
berbagai pantangan terhadap berbagai aktivitas keseharian.
Kepercayaan tradisional
dan khususnya tabu inilah yang menjadi kontrol sosial penduduk dan mengatur
pemanfaatan hutan secara arif dan bijaksana dalam ribuan tahun.
Bagaimanapun juga, sekarang kebudayaan tersebut berangsur hilang. Populasi penduduk tumbuh dengan cepat dan sumberdaya alam dieksploitasi tanpa mengindahkan peraturan tradisional sehingga berdampak menurunya daya dukung lingkungan yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat Mentawai.
Bagaimanapun juga, sekarang kebudayaan tersebut berangsur hilang. Populasi penduduk tumbuh dengan cepat dan sumberdaya alam dieksploitasi tanpa mengindahkan peraturan tradisional sehingga berdampak menurunya daya dukung lingkungan yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat Mentawai.
Dalam melakukan
kegiatan berburu, pembuatan sampan, merambah/membuka lahan untuk ladang atau
membangun sebuah uma maka biasanya dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh
anggota uma dan pembagian kerja dibagi atas jenis kelamin. Setiap keluarga
dalam satu uma membawa makanan (ayam, sagu, dll) yang kemudian dikumpulkan dan
dimakan bersama-sama oleh seluruh anggota uma setelah selesai melaksanakan
kegiatan/upacara.
Makanan pokok
masyarakat di Siberut adalah sagu (Metroxylon sagu), pisang dan keladi. Makanan
lainnya seperti buah-buahan, madu dan jamur diramu dari hutan atau ditanam di
ladang. Sumber protein seperti rusa, monyet dan burung diperoleh dengan berburu
menggunakan panah dan ikan dipancing dari kolam atau sungai.









0 komentar:
Posting Komentar